Kamis, 18 Mei 2017

Pak Guru Yang Tampan


UNITED4D - Sebut saja aq Sofi (samaran), waktu itu aq masih duduk di bangku sekolah SMA. Singkat cerita, dalam bergaul aq cukup ramah sehingga aq di sekolah mempunyai banyak teman baik anak-anak kelas 2 sendiri atau kelas 1, aq sendiri waktu itu masih kelas 2. Cowok dan cewek semua senang bergaul denganku. Dikelas pun aq termasuk salah satu murid yg memiliki kepandaian cukup baik, rangkin 5 dari 10 murid terbaik saat kenaikan kelas 1 ke kelas 2.
Baca Juga : 

Bermain Dengan Janda Liar



Karena kepandaianku dalam bergaul tak jarang pula para guru senang padaku dalam arti kata bisa diajak berdiskusi tentang pelajaran. Salah satu guru yg aq sukai adalah guru bahasa inggris, orangnya tampan dengan bekas cukuran brewok yg aduhai di sekeliling wajahnya, tinggi dan ramping tetapi cukup kekar. Dia memang masih singgle dan aq dengar-dengar usianya baru 26 thn.
Suatu hari selesai pelajaran olah raga (basket merupakan olahraga favoritku) aq duduk-duduk istirahat di kantin sekolah bersama-teman-teman, sembari minum es teh dan makan makanan kecil. Aq dan teman-temanku cewek masih memakai pakaian olah raga yaitu kaos dan celana pendek. Memang disitu cewek-ceweknya terlihat sexy karena keliatan pahanya termasuk pahaku yg putih mulus. Tiba-tiba muncul pak guru bahasa inggris tersebut, sebut saja namanya Herman (samaran) dan kami semua bilang,
“Pagi paaa…aaak” dan dia membalas sembari tersenyum.
“Ya, pagi semua. Waah, kalian cape ya, habis maen basket”
Aq menjawab,
“Iya nich pak, lagi istirahat. Selesai ngajar, ya pak”
“Iya, nanti jam sebelas sy ngajar lagi, sekarang maun istirahat dulu”
Aq dan teman-temanku mengajak,
“Di sini saja pak, ngobrol-ngbrol bareng kita” dia pun setuju.
“Oke, boleh-boleh aja kalau kalian semua tdk keberatan!”
Aq dan teman-teman berkata,
“Tdk, pak” lalu aq menimpali lagi,
“Kali-kali, donk, pak kita ditraktir”
Lalu teman-teman yg lain berkata,
“Naa…aaaa, betul betul… setujuuu…”
Ketika pak Herman menagmbil posisi untuk duduk langsung aq mendekat karena memang aq senang akan ketampanannya dan kontan teman-temanku ngatain aq.
“Alaaahh…, Sofi, langsung dech, deket-deket, jangan mau pak”
Pak Herman menjawab,
“Ahh! Ya, nggak apa-apa”.
Kemudian sengaja aq menggoda sedikit pandangannya dengan menaikkan salah satu kakiku seolah akan membetulkan sepatu olah ragaku dan karena masih menggunakan celana pendek, jelas terlihat keindahan pahaku. Tampak Pak Herman tersenyum dan aq berpura-pura minta maaf.
“Sorry, ya Pak”.
Dia menjawab,
“That’s OK”. Di dalam hati aq tertawa karena sudah bisa mempengaruhi pandangan Pak Herman.
Di suatu hari Minggu aq berniat pergi ke rumah Pak Herman dan pamit kepada Mama dan Papa untuk main ke rumah teman dan pulang agak sore dengan alasan mau mengerjakan PR bersama-sama. Secara kebetulan pula Mama dan papaku mengizinkan begitu saja. Hari ini memang hari yg paling bersejarah dalam hidupku. Ketika tiba di rumah Pak Herman, dia baru selesai mandi dan kaget melihat kedatanganku.
“Eeeh, kamu Sof. Tumben, ada apa, kok datang sendirian?”.
aq menjawab,
“Ah, nggak iseng aja. Sekedar mau tahu aja rumah bapak”.
Lalu dia mengajak masuk ke dalam,
“Ooo, begitu. Ayolah masuk. Maaf rumah sy kecil begini. Tunggu, ya, sy paké baju dulu”. Memang tampak Pak Herman hanya mengenakan handuk saja.
Tak lama kemudian dia keluar dan bertanya sekali lagi tentang keperluanku. aq sekedar menjelaskan,
“Cuma mau tanya pelajaran, Pak. Kok sepi banget Pak, rumahnya”.
Dia tersenyum,
“Sy kost di sini. Sendirian.”
Selanjutnya kita berdua diskusi soal bahasa Inggris sampai tiba waktu makan siang dan Pak Herman tanya,
“Udah laper, Sof?”.
aq jawab,
“Lumayan, Pak”.
Lalu dia berdiri dari duduknya,
“Kamu tunggu sebentar ya, di rumah. Sy mau ke warung di ujung jalan situ. Mau beli nasi goreng. Kamu mau kan?”.
Langsung kujawab,
“Ok-ok aja, Pak.”.
Sewaktu Pak Herman pergi, aq di rumahnya sendirian dan aq jalan-jalan sampai ke ruang makan dan dapurnya. Karena bujangan, dapurnya hanya terisi seadanya saja. Tetapi tanpa disengaja aq melihat kamar Pak Herman pintunya terbuka dan aq masuk saja ke dalam.
Kulihat koleksi bacaan berbahasa Inggris di rak dan meja tulisnya, dari mulai majalah sampai buku, hampir semuanya dari luar negeri dan ternyata ada majalah porno dari luar negeri dan langsung kubuka-buka. Aduh! Gambar-gambarnya bukan main. Cowok dan cewek yg sedang bersetubuh dengan berbagai posisi dan entah kenapa yg paling menarik bagiku adalah gambar di mana cowok dengan asyiknya menjilati memek cewek dan cewek sedang mengisap k0ntol cowok yg besar, panjang dan kekar.
Tdk disangka-sangka suara Pak Herman tiba-tiba terdengar di belakangku,
“Lho!! Ngapain di situ, Sof. Ayo kita makan, nanti keburu dingin nasinya”.
Astaga! Betapa kagetnya aq sembari menoleh ke arahnya tetapi tampak wajahnya biasa-biasa saja. Majalah segera kulemparkan ke atas tempat tidurnya dan aq segera keluar dengan berkata tergagap-gagap,
“Ti..ti..tdk, eh, eng..ggak ngapa-ngapain, kok, Pak. Maa..aa..aaf, ya, Pak”.
Pak Herman hanya tersenyum saja,
“Ya. Udah nggak apa-apa. Kamar sy berantakan. tdk baik untuk dilihat-lihat. Kita makan aja, yuk”.
Syukurlah Pak Herman tdk marah dan membentak, hatiku serasa tenang kembali tetapi rasa malu belum bisa hilang dengan segera.
Pada saat makan aq bertanya,
“Koleksi bacaannya banyak banget Pak. Emang sempat dibaca semua, ya Pak?”.
Dia menjawab sambil memasukan sesendok penuh nasi goreng ke mulutnya,
“Yaa..aah, belum semua. Lumayan buat iseng-iseng”.
Lalu aq memancing,
“Kok, tadi ada yg begituan”.
Dia bertanya lagi,
“Yg begituan yg mana”.
Aq bertanya dengan agak malu dan tersenyum,
“Emm.., Ya, yg begituan, tuh. Emm.., Majalah jorok”.
Kemudian dia tertawa,
“Oh, yg itu, toh. Itu dulu oleh-oleh dari teman sy waktu dia ke Eropa”.
Selesai makan kita ke ruang depan lagi dan kebetulan sekali Pak Herman menawarkan aq untuk melihat-lihat koleksi bacaannya.
Lalu dia menawarkan diri,
“Kalau kamu serius, kita ke kamar, yuk”.
Aq pun langsung beranjak ke sana. Aq segera ke kamarnya dan kuambil lagi majalah porno yg tergeletak di atas tempat tidurnya.
Begitu tiba di dalam kamar, Pak Herman bertanya lagi,
“Betul kamu tdk malu?”, aq hanya menggelengkan kepala saja.
Mulai saat itu juga Pak Herman dengan santai membuka celana jeans-nya dan terlihat olehku sesuatu yg besar di dalamnya, kemudian dia menindihkan dadanya dan terus semakin kuat sehingga menyentuh memekku. Aq ingin merintih tetapi kutahan.
Pak Herman bertanya lagi,
“Sakit, Sof”. Aq hanya menggeleng, entah kenapa sejak itu aq mulai pasrah dan mulutkupun terkunci sama sekali.
Semakin lama jilatan Pak Herman semakin berani dan menggila. Rupanya dia sudah betul-betul terbius nafsu dan tdk ingat lagi akan kehormatannya sebagai Seorang Guru. Aq hanya bisa mendesah
”, aaaghh.., aachhh, Hemm.., uuhh.., uuhhh”.
Akhirnya aq lemas dan kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Pak Herman pun naik dan bertanya.
“Enak, Sof?”
“Lumayan, Pak”.
Tanpa bertanya lagi langsung Pak Herman mencium mulutku dengan ganasnya, begitupun aq melayaninya dengan nafsu sembari salah satu tanganku mengelus-elus k0ntol yg perkasa itu. Terasa keras sekali dan rupanya sudah berdiri sempurna. Mulutnya mulai mengulum kedua puting toketq.
Praktis kami berdua sudah tdk berbicara lagi, semuanya sudah mutlak terbius nafsu birahi yg buta. Pak Herman berhenti merangsangku dan mengambil majalah porno yg masih tergeletak di atas tempat tidur dan bertanya kepadaku sembari salah satu tangannya menunjuk gambar cowok memasukkan k0ntolnya ke dalam memek seorang cewek yg tampak pasrah di bawahnya.
“Boleh sy seperti ini, Sof?”.
Aq tdk menjawab dan hanya mengedipkan kedua mataku perlahan. Mungkin Pak Herman menganggap aq setuju dan langsung dia mengangkangkan kedua kakiku lebar-lebar dan duduk di hadapan memekku. Tangan kirinya berusaha membuka belahan memekku yg rapat, sedangkan tangan kanannya menggenggam k0ntolnya dan mengarahkan ke memekku.
Kelihatan Pak Herman agak susah untuk memasukan k0ntolnya ke dalam memekku yg masih rapat, dan aq merasa agak kesakitan karena mungkin otot-otot sekitar memekku masih kaku. Pak Herman memperingatkan,
“Tahan sakitnya, ya, Sof”. Aq tdk menjawab karena menahan terus rasa sakit dan,
“Akhh.., bukan main perihnya ketika batang k0ntol Pak Herman sudah mulai masuk, aq hanya meringis tetapi Pak Herman tampaknya sudah tak peduli lagi, ditekannya terus k0ntolnya sampai masuk semua dan langsung dia menidurkan tubuhnya di atas tubuhku. Kedua toketku agak tertekan tetapi terasa nikmat dan cukup untuk mengimbangi rasa perih di memekku.
Semakin lama rasa perih berubah ke rasa nikmat sejalan dengan gerakan k0ntol Pak Herman mengocok memekku. Aq terengah-engah,
“Hah, hah, hah,..”. Pelukan kedua tangan Pak Herman semakin erat ke tubuhku dan spontan pula kedua tanganku memeluk dirinya dan mengelus-elus punggungnya.
Semakin lama gerakan k0ntol Pak Herman semakin memberi rasa nikmat dan terasa di dalam memekku menggeliat-geliat dan berputar-putar.
Sekarang rintihanku adalah rintihan kenikmatan. Pak Herman kemudian agak mengangkatkan badannya dan tanganku ditelentangkan oleh kedua tangannya dan telapaknya mendekap kedua telapak tanganku dan menekan dengan keras ke atas kasur dan ouwww.., Pak Herman semakin memperkuat dan mempercepat kocokan k0ntolnya dan di wajahnya kulihat raut yg gemas.
Semakin kuat dan terus semakin kuat sehingga tubuhku bergerinjal dan kepalaku menggeleng ke sana ke mari dan akhirnya Pak Herman agak merintih bersamaan dengan rasa cairan hangat di dalam memekku. Rupanya air maninya sudah keluar dan segera dia mengeluarkan k0ntolnya dan merebahkan tubuhnya di sebelahku dan tampak dia masih terengah-engah.
Setelah semuanya tenang dia bertanya padaku,
“Gimana, Sof? Kamu tdk apa-apa? Maaf, ya”.
Sembari tersenyum aq menjawab dengan lirih,
“tdk apa-apa. Agak sakit Pak. Sy baru pertama ini”.
Dia berkata lagi,
“Sama, sy juga”.
Kemudian aq agak tersenyum dan tertidur karena memang aq lelah, tetapi aq tdk tahu apakah Pak Herman juga tertidur.
Sekitar pukul 17:00 aq dibangunkan oleh Pak Herman dan rupanya sewaktu aq tidur dia menutupi sekujur tubuhku dengan selimut. Tampak olehku Pak Herman hanya menggunakan handuk dan berkata,
“Kita mandi, yuk. Kamu harus pulang kan?”.
Badanku masih agak lemas ketika bangun dan dengan tetap dalam keadaan telanjang bulat aq masuk ke kamar mandi. Kemudian Pak Herman masuk membawakan handuk khusus untukku. Di situlah kami berdua saling bergantian membersihkan tubuh dan aq pun tak canggung lagi ketika Pak Herman menyabuni memekku yg memang di sekitarnya ada sedikit bercak-bercak darah yg mungkin luka dari selaput darahku yg robek. Begitu juga aq, tdk merasa jijik lagi memegang-megang dan membersihkan k0ntolnya yg perkasa itu.
Setelah semua selesai, Pak Herman membuatkan aq teh manis panas secangkir. Terasa nikmat sekali dan terasa tubuhku menjadi segar kembali. Sekitar jam 17:45 aq pamit untuk pulang dan Pak Herman memberi ciuman yg cukup mesra di bibirku. Ketika aq mengemudikan mobilku, terbayang bagaimana keadaan Papa dan Mama dan nama baik sekolah bila kejadian yg menurutku paling bersejarah tadi ketahuan. Tetapi aq cuek saja, kuanggap ini sebagai pengalaman saja.
Semenjak itulah, bila ada waktu luang aq bertandang ke rumah Pak Herman untuk menikmati keperkasaannya dan aq bersyukur pula bahwa rahasia tersebut tak pernah sampai bocor. Sampai sekarangpun aq masih tetap menikmati genjotan Pak Herman walaupun aq sudah menjadi mahasiswa, dan seolah-olah kami berdua sudah pacaran.
Pernah Pak Herman menawarkan padaku untuk mengawiniku bila aq sudah selesai kuliah nanti, tetapi aq belum pernah menjawab. Yg penting bagiku sekarang adalah menikmati dulu keganasan dan keperkasaan k0ntol guru bahasa Inggrisku itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar