Minggu, 11 Juni 2017

GADIS MANIS YANG MENGGEMASKAN


UNITED4D - Saya datang ke kota ini karena diterima disalah satu Universitas, dan oleh ayah saya disuruh tinggal dirumah Om Hendro. Rani ternyata baru kelas 2 SMA. Dia anak tunggal. Badannya tidak terlalu tinggi, mungkin sekitar 165cm, tapi mukanya sangat lucu, dengan bibir yang agak penuh. Disini saya diberi kamar di lantai 2, bersebelahan dengan kamar Rani.

TANGGA DARURAT


Saya sekarang sudah 3 bulan tinggal dirumah Om Hendro, dan karena semuanya ramah, saya jadi betah. Terlebih lagi Rani. Kadang-kadang dia suka nanya-nanya pelajaran sekolah, dan saya berusaha membantunya. Saya sering mencuri-curi memperhatikan Rani. Kalau dirumah, dia sering memakai daster yang pendek hingga pahanya yang putih mulus menarik perhatian saya. Selain itu buah dadanya yang baru mekar juga sering bergoyang-goyang dibalik dasternya. Saya jadi sering membayangkan betapa indahnya badan Rani seandainya sudah tidak memakai apa-apa lagi.

Suatu hari pulang kuliah sesampainya dirumah ternyata sepi sekali. Diruang keluarga ternyata Rani sedang belajar sambil tiduran diatas karpet.

"Sepi sekali, lagi belajar yah? Tante kemana?" tanyaku.

"Eh.. Doni, iya nih, aku minggu depan ujian, nanti bantuin belajar yah… Mami sih lagi keluar, katanya ada perlu sampe malem"

"Iya deh, aku ganti baju dulu"

Kemudian saya masuk kamar saya, ganti dengan celana pendek dan kaos oblong. Lalu saya tidur-tiduran sebentar sambil membaca majalah yang baru saya beli. Tak lama kemudian saya keluar kamar. Saya merasa lapar, jadi saya ke meja makan. Saya teriak memanggil Rani ngajak dia makan bareng. Tapi tidak ada sahutan. Dan setelah saya tengok ke ruang keluarga, ternyata Rani sudah tidur telungkup diatas buku yang sedang dia baca, mungkin sudah kecapekan belajar, pikirku. Nafasnya turun naik secara teratur. Ujung dasternya agak tersingkap, menampakkan bagian belakang pahanya yang putih. Bentuk pantatnya juga bagus.

Memperhatikan Rani tidur membuat saya terangsang. Saya merasa kemaluan saya mulai tegak dibalik celana pendek yang saya pakai. Tapi karena takut ketahuan, saya segera keruang makan. Tapi nafsu makan saya sudah hilang, maka itu saya cuma makan buah, sedangkan otak saya terus ke Rani. Kemaluan saya juga semakin berdenyut.

Akhirnya saya nggak tahan, dan kembali ke ruang keluarga. Ternyata posisi tidur Rani sudah berubah, dan dia sekarang terlentang, dengan kaki kiri dilipat keatas, sehingga dasternya tersingkap sekali, dan celana dalam bagian bawahnya kelihatan. Celana dalamnya berwarna putih, agak tipis dan berenda, sehingga bulu-bulunya membayang dibawahnya. Saya sampai tertegun melihatnya. Kemaluan saya tegak sekali dibalik celana pendek saya. Buah dadanya naik turun teratur sesuai dengan nafasnya, membuat kemaluan saya semakin berdenyut. Ketika sedang enak-enak memandangi, saya dengar suara mobil masuk ke halaman. Ternyata Om Hendro sudah pulang. Saya pun cepat-cepat naik ke kamar saya, pura-pura tidur. Dan saya memang ketiduran sampai agak sore, dan saya baru ingat kalau belum makan.

Saya segera ke ruang makan dan makan sendirian. Keadaan rumah sangat sepi, mungkin Om dan Tante sedang tidur. Setelah makan saya naik lagi ke atas, dan membaca majalah yang baru saya beli. Saat sedang asik membaca, tiba-tiba kamar saya ada yang mengetuk, dan ternyata Rani.

"Doni, aku baru dibeliin kalkulator nih, entar ajarin yah cara makainya. Soalnya rada canggih sih" katanya sambil menunjukkan kalkulator barunya.

"Wah, ini kalkulator yang aku juga pengen beli nih. Tapi mahal. Iya deh, aku baca dulu manualnya. Entar aku ajarin deh, kayaknya sih nggak terlalu beda sama komputer" sahutku.

"Ya udah, dibaca dulu deh. Rani juga mau mandi dulu sih" katanya sambil berlalu ke teras atas tempat menjemur handuk.

Saya masih berdiri di pintu kamar saya dan mengikuti Rani dengan pandangan saya. Ketika mengambil handuk, badan Rani terkena sinar matahari dari luar rumah. Dan saya melihat bayangan badannya dengan jelas dibalik dasternya. Saya jadi teringat pemandangan siang tadi waktu dia tidur.

Kemudian sewaktu Rani berjalan melewati saya ke kamar mandi, saya pura-pura sedang membaca manual kalkulator itu. Tak lama kemudian saya mulai mendengar suara Rani yang sedang mandi sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Kembali imajinasi saya mulai membayangkan Rani yang sedang mandi, dan hal itu membuat kemaluan saya agak tegang. Karena nggak tahan sendiri, saya segera mendekati kamar mandi dan mencari cara untuk mengintipnya, dan saya menemukannya..!

Saya mengambil kursi dan naik diatasnya untuk mengintip lewat celah ventilasi kamar mandi. Pelan-pelan saya mendekatkan muka saya ke celah itu, dan ya Tuhan... saya melihat Rani yang sedang menyabuni badannya, mengusap-usap dan meratakan sabun ke seluruh lekuk tubuhnya. Badannya sangat indah, jauh lebih indah dari yang saya bayangkan.Lehernya yang putih, pundaknya, buah dadanya, putingnya yang kecoklatan, perutnya yang rata, pantatnya, bulu-bulu disekitar kemaluannya, pahanya, semuanya sangat indah. Dan kemaluan saya pun menjadi sangat tegang.

Tapi saya tidak berlama-lama mengintipnya, karena selain takut ketahuan, juga saya merasa tidak enak mengintip orang mandi. Saya segera ke kamar saya dan berusaha menenangkan perasaan saya yang tidak karuan.

Malamnya sehabis makan, saya dan Om Hendro sedang ngobrol sambil nonton TV, dan Om Hendro bilang kalau besok mau keluar kota dengan istrinya seminggu. Dia pesan supaya saya ngebantu Rani kalau butuh bantuan. Tentu saja saya bersedia, malah jantung saya menjadi berdebar-debar. Tak lama kemudian Rani mendekati kita.

"Doni, tolongin aku dong, ajarin soal-soal yang buat ujian, ayo" katanya sambil menarik-narik tangan saya.

Saya mana bisa menolak. Saya pun mengikuti Rani berjalan ke kamarnya dengan diiringi Om Hendro yang senyum-senyum melihat Rani yang manja.

Beberapa menit kemudian kami sudah terlibat dengan soal-soal yang memang butuh konsentrasi. Rani duduk sedangkan saya berdiri disampingnya. Saya bersemangat sekali mengajari, karena kalau saya menunduk pasti belahan dada Rani kelihatan dari dasternya yang longgar. Saya lihat Rani nggak pake beha. Kemaluan saya berdenyut-denyut, tegak dibalik celana dan keliatan menonjol. Saya merasa bahwa Rani tau kalo saya suka nyuri ngeliat buah dadanya, tapi dia tidak berusaha merapikan dasternya yang semakin terbuka sampai saya bisa melihat putingnya.

Karena sudah tidak tahan, sambil pura-pura menjelaskan soal saya merapatkan badan saya sampai kemaluan saya menempel ke punggungnya. Rani pasti juga bisa merasakan kemaluan saya yang tegak. Rani sekarang cuma diam saja dengan muka menunduk.

"Rani, kamu cantik sekali.." kata saya dengan suara yang sudah bergetar, tapi Rani
diam saja dengan muka semakin menunduk.

Kemudian saya meletakkan tangan saya dipundaknya. Dan karena dia diam saja, saya jadi makin berani mengusap-usap pundaknya yang terbuka, karena tali dasternya sangat kecil. Sementara kemaluan saya semakin menekan pangkal lengannya, usapan tangan saya pun semakin turun kearah dadanya. Saya merasa nafas Rani sudah memburu seperti suara nafas saya juga. Saya jadi makin nekad. Dan ketika tangan saya sudah sampai kepinggiran buah dada, tiba-tiba tangan Rani mencengkeram dan menahan tangan saya. Mukanya mendongak kearah saya.

"Doni aku mau diapain.." Rintihnya dengan suara yang sudah bergetar.

Melihat mulutnya yang setengah terbuka dan agak bergetar-getar, saya jadi tidak tahan lagi. Saya tundukkan muka, kemudian mendekatkan bibir saya ke bibirnya. Ketika bibir kami bersentuhan, saya merasakan bibirnya yang sangat hangat, kenyal, dan basah.

Saya pun melumat bibirnya dengan penuh perasaan, dan Rani membalas ciuman saya, tapi tangannya belum melepas tangan saya. Dengan pelan-pelan badan Rani saya bimbing, saya angkat agar berdiri berhadapan dengan saya. Dan masih sambil saling melumat bibir, saya peluk badannya dengan gemas. Buah dadanya keras menekan dada saya, dan kemaluan saya juga menekan perutnya.

Pelan-pelan lidah saya mulai menjulur menjelajah kedalam mulutnya, dan mengait-kait lidahnya, membuat nafas Rani semakin memburu, dan tangannya mulai mengusap-usap punggung saya. Tangan saya pun tidak tinggal diam, mulai turun kearah pinggulnya, dan kemudian dengan gemas mulai meremas-remas pantatnya. Pantatnya sangat empuk. Saya remas-remas terus dan saya semakin rapatkan kebadan saya hingga kemaluan saya terjepit perutnya.

Tak lama kemudian tangan saya mulai keatas kepundaknya. Dengan gemetar tali dasternya saya turunkan dan dasternya turun ke bawah dan teronggok dikakinya. Kini Rani tinggal memakai celana dalam saja. Saya memeluknya semakin gemas, dan ciuman saya semakin turun. Saya mulai menciumi dan menjilat-jilat lehernya, dan Rani mulai mengerang-erang. Tangannya mengelus-elus belakang kepala saya.

Saya renggangkan pelukan saya. Saya pandangi badannya yang setengah telanjang. Buah dadanya bulat sekali dengan puting yang tegak bergetar seperti menantang saya. Kemudian mulut saya pelan-pelan saya dekatkan ke buah dadanya. Dan ketika mulut saya menyentuh buah dadanya, Rani mengerang lagi lebih keras sambil mendongakkan kepalanya, dan menekan pantat dan dadanya kearah saya.

Nafsu saya semakin naik. Saya ciumi susunya dengan ganas, putingnya saya mainin dengan lidah saya, dan susunya yang sebelah saya mainin dengan tangan saya.

"Aduuhh… aaahh... aaahhh…" Rani semakin merintih-rintih ketika dengan gemas
putingnya saya gigit-gigit sedikit.

Badannya menggeliat-geliat membuat saya semakin bernafsu untuk terus mencumbunya. Tangan Rani kemudian menyelusup ke balik baju saya dan mengusap kulit punggung saya.

"Doniii… aahhh... baju kamu dibuka dong… aahh..."

Saya pun mengikuti keinginannya. Tapi selain baju, celana juga saya lepas, hingga saya juga cuma pake celana dalam. Mulutnya kembali saya ciumi dan tangan saya memainkan susunya. Kontol saya semakin keras karena Rani menggesek-gesekkan pinggulnya sembari mengerang-erang.

Tangan saya mulai menyelinap ke celana dalamnya. Bulu jembutnya saya usap-usap, dan kadang saya garuk-garuk. Saya merasa memeknya sudah basah ketika jari saya sampai ke memeknya. Dan ketika tangan saya mulai mengusap itilnya, ciumannya dimulut saya semakin liar. Mulutnya mengisap mulut saya dengan keras. Itilnya saya usap, saya puter-puter, makin lama makin kencang, dan makin kencang. Pantat Rani ikut bergoyang, dan semakin rapat menekan, sehingga kontol saya semakin berdenyut.

Sementara itilnya masih saya putar-putar, jari saya yang lain juga mengusap bibir memeknya. Rani menggelinjang semakin keras, dan pada saat tangan saya mengusap
semakin kencang, tiba-tiba tangan saya dijepit dengan pahanya! Dan badan Rani tegang sekali dan tersentak-sentak selama beberapa saat.

"Aaahh… aaahhh… Doniii... adduuuhh aaahhhh aaahhhhhhhh…"

Dan setelah beberapa saat akhirnya jepitannya berangsur semakin mengendur. Tapi mulutnya masih mengerang-erang dengan pelan.

"Don… aku boleh yah pegang punya kamu" tiba-tiba bisiknya di telinga saya. Saya yang
masih tegang sekali merasa senang sekali.

"Iyaaa... boleh..." bisikku.

Kemudian tangannya saya bimbing ke celana dalam saya.

"Aahhh..." Saya pun mengerang ketika tangannya menyentuh kontol saya.

Terasa enak sekali. Rani juga terangsang lagi, karena sambil mengusap usap kepala kontol saya, mulutnya mengerang di telinga saya. Kemudian mulutnya saya cium lagi dengan ganas. Dan kontol saya mulai digenggam dengan dua tangannya, diurut-urut dan cairan pelumas yang keluar diratakan keseluruh batang saya. Badan saya semakin menegang. Kemudian kontol saya mulai dikocok-kocok, makin lama makin kencang, dan pantatnya juga ikut digesekkan kebadan saya. Tak lama kemudian saya merasa badan saya bergetar, terasa ada aliran hangat diseluruh tubuh saya, saya merasa saya sudah hampir orgasme.

"Raaannniii... aku mau keluar..." bisikku yang membuat genggamannya semakin
erat dan kocokannya makin kencang.

"Aahhh… Ranniii... uuuhhh... aaahhh…" akhirnya dari kontol saya memancar cairan yang menyembur kemana-mana. Badan saya tersentak-sentak. Sementara kontol saya masih mengeluarkan cairan, tangan Rani tidak berhenti mengurut-urut, sampai rasanya semua cairan saya sudah diperas habis oleh tangannya. Saya merasa sperma yang mengalir dari sela-sela jarinya membuat Rani semakin gemas. Sperma saya masih keluar untuk beberapa saat lagi sampai saya merasa lemas sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar