Sabtu, 08 April 2017

Diperkosa Gigolo


UNITED4D - Kisah ini Bermula ketika aku perjakanan Ke kota orang disana banyak Cowok yang ganteng dan badanya berisi buat aku sange. Penasaran ? Lanjut.
Baca Juga : 

SexGairah Janda Muda


Perjalanan Bisnis ke Surabaya sebenarnya sungguh menyenangkan, karena akan ketemu dgn sahabat lama yang sudah lama kutinggalkan, sayangnya suamiku Hendra tak bisa menemaniku karena kesibukannya.

Dgn ditemani Andre, salah seorang kepercayaanku, kami terbang dgn flight sore supaya bisa istirahat dan besok bisa meeting dalam keadaan fresh dan tak loyo karena harus bangun pagi pagi buta, mengingat meeting besok aku perkirakan akan berlangsung cukup alot karena menyangkut negosiasi dan kontrak, disamping itu meeting dgn Pak Roni, calon clien, jadwalnya jam 10:15 pagi.

Pukul 19:10 kami check in di Seraton Hotel, setelah menyelesaikan administrasinya kami langsung masuk ke kamar masing masing untuk istirahat. Kurendam badanku di bathtub dgn air hangat untuk melepas rasa penat setelah seharian meeting di kantor menyiapkan bahan meeting untuk besok. Cukup lama aku di kamar mAndre hingga kudengar HP ku berbunyi, tapi tak kuperhatikan, paling juga suamiku yang lagi kesepian di rumah, pikirku.

Setelah puas merendam diri, kukeringkan badanku dgn handuk menuju ke kamar. Kukenakan pakaian santai, celana jeans straight dan kaos ketat full press body tanpa lengan hingga lekuk badanku tercetak jelas, kupandangi penampilanku di kaca, dadaku kelihatan padat dan menantang, cukup attraktif, di umurku yang 31 tahun pasti orang akan mengira aku masih berumur sekitar 27 tahun.

Kutelepon ke rumah dan HP suamiku, tapi keduanya tak ada yang jawab, lalu kuhubungi kamar Andre yang nginap tepat di sebelah, idem ditto. aku teringat miss call di HP-ku, ternyata si Riyo, gigolo langgananku di Jakarta, kuhubungi dia.

“hallo sayang, tadi telepon ya” sapaku
“mbak Sinta, ketemu yok, aku udah kangen nih, kita pesta yok, ntar aku yang nyiapin pesertanya, pasti oke deh mbak” suara dari ujung merajuk
“pesta apaan?”
“pesta asik deh, dijamin puas, Mbak Cuma sediakan tempatnya saja, lainnya serahkan ke Riyo, pasti beres, aku jamin mbak” bujuknya
“emang berapa orang” tanyaku penasaran
“rencanaku sih aku dgn dua temanku, lainnya terserah mbak, jaminan kepuasannya Riyo deh mbak”
“asik juga sih, sayang aku lagi di Surabaya nih, bagaimana kalo sekembalinya aku nanti”
“wah sayang juga sih mbak, aku lagi kangen sekarang nih”
“simpan saja dulu ya sayang, ntar pasti aku kabari sekembaliku nanti”
“baiklah mbak, jangan lupa ya”
“aku nggak akan lupa kok sayang, eh kamu punya teman di Surabaya nggak?” tanyaku ketika tiba tiba kurasakan gairahku naik mendengar rencana pestanya Riyo.
“Nah kan bikin pesta di Surabaya” ada nada kecewa di suaranya
“gimana punya nggak, aku perlu malam ini saja”
“ada sih, biar dia hubungi Mbak nanti, nginapnya dimana sih?”
“kamu tahu kan seleraku, jangan asal ngasih ntar aku kecewa”
“garansi deh mbak”

Kumatikan HP setelah memberitahukan hotel dan kamarku, lalu aku ke lobby sendirian, masih sore, pikirku setelah melihat jam tanganku masih pukul 21:00 tapi cukup telat untuk makan malam. Cukup banyak tamu yang makan malam, kuambil meja agak pojok menghadap ke pintu sehingga aku bisa mengamati tamu yang masuk. Ketika menunggu pesanan makanan aku melihat Pak Roni sedang makan bersama seorang temannya, maka kuhampiri dan kusapa dia.

“malam Bapak, apa kabar?” sapaku sambil menyalami dia
“eh Mbak Sinta, kapan datang, kenalin ini Pak Marlon buyer kita yang akan meng-export barang kita ke Cina” sambut Pak Roni, aku menyalami Pak Marlon dgn hangat.
“silahkan duduk, gabung saja dgn kami, biar lebih rame, siapa tahu kita tak perlu lagi meeting besok” kelakar Pak Marlon dgn ramah.
“terima kasih Pak, wah kebetulan kita bertemu di sini, kan aku nginap di hotel ini” jawabku lalu duduk bergabung dgn mereka.

Kami pun bercakap ringan sambil makan malam, hingga aku tahu kalau Pak Marlon dan Pak Roni ternyata sahabat lama yang selalu berbagi dalam suka dan duka, meskipun kelihatannya Pak Roni lebih tua, menurut taksiranku sekitar 45 tahun, sementara Pak Marlon, seorang chinesse, mungkin umurnya tak lebih dari 40 tahun, maximum 37 tahun perkiraanku. Setelah selesai makan malam, aku pesan red wine kesukaanku, sementara mereka memesan minuman lain yang aku tak terlalu perhatikan.

“Bagaimana dgn besok, everything is oke?” Tanya Pak Roni
“Untuk Bapak aku siapkan yang spesial, kalau tahu bapak ada disini pasti kubawa proposalku tadi” kelakarku sambil tersenyum melirik Pak Marlon, si cina ganteng itu.
Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 22:30, cukup lama juga kita ngobrol dan entah sudah berapa gelas red wine yang sudah meluncur membasahi tenggorokanku hingga kepalaku agak berat, tak pernah aku minum wine sebanyak ini, pengaruh alcohol sepertinya sudah menyerangku. Tamu sudah tak banyak lagi disekitar kami. Kupanggil waitres untuk menyelesaikan pembayaran yang di charge ke kamarku.

Kamipun beranjak hendak pulang ketika tiba tiba kepalaku terasa berat dan badanku terhuyung ke Pak Marlon, Pak Roni sudah duluan pergi ketika Pak Marlon memeluk dan membimbingku ke lift menuju kamar, aku sendiri sudah diantara sadar dan tak, ketika Pak Marlon mengambil tas tanganku dan mengambil kunci kamar lalu membukanya.
Dgn hati hati Pak Marlon merebahkan badanku di ranjang, dilepasnya sepatu hak tinggiku dan perlahan membetulkan posisi badanku, aku sudah tak ingat selanjutnya.

Kesadaranku tiba tiba timbul ketika kurasakan dadaku sesak dan ada kegelian bercampur nikmat di antara putingku, kubuka mataku dgn berat dan ternyata Pak Marlon sedang menindih badanku sambil mengulumi kedua putingku secara bergantian, badanku sudah telanjang, entah kapan dia melepasnya begitu juga Pak Marlon yang hanya memakai celana dalam.

Bukannya berontak setelah kesadaranku timbul tapi malah mendesah kenikmatan, kuremas rambut kepala Pak Marlon yang masih bermain di kedua buah dadaku. Tangannya mulai mempermainkan selangkanganku, entah kapan dia mulai menjamah badanku tapi kurasakan kemaluanku sudah basah, aku Cuma mendesah desah dalam kenikmatan.

“sshh.. eehh.. eegghh” desahku membuat Pak Marlon makin bergairah, dia kemudian mencium bibirku dan kubalas dgn penuh gairah. Kuraba selangkangannya dan kudapati tonjolan mengeras di balik celananya, cukup besar pikirku. Sambil berciuman, kubuka celana dalamnya. Dia menghentikan ciumannya untuk melepas hingga telanjang, ternyata kemaluannya yang tegang tak sedasyat yang aku bayangkan, meski diameternya besar tapi tak terlalu panjang, paling sepanjang genggamanku, dan lagi belum disunat, ada rasa sedikit kecewa di hatiku, tapi tak kutunjukkan.

Dia kembali menindih badanku, diciuminya leherku sambil mempermainkan lidahnya sepanjang leher dan pundakku, lalu turun dan berputar putar di buah dadaku, putingku tak lepas dari jilatannya yang ganas, jilatannya lalu beralih ke perut terus ke paha dan mempermainkan lututku, ternyata jilatan di lutut yang tak pernah kualami menimbulkan kenikmatan tersendiri. Daerah selangkangan adalah terminal terakhir dari lidahnya, dia mempermainkan klitoris dan bibir kemaluanku sambil jari tangannya mulai mengocok kemaluanku.

“sshh.. eegghh.. eehhmm.. ya Pak..truss Pak” desahku merasakan kenikmatan dari jilatan dan kocokan jari Pak Marlon. Pak Marlon kembali ke atasku, kakinya dikangkangkan di dadaku sambil menyodorkan kemaluannya, biasanya aku tak mau mengulum kemaluan pada kesempatan pertama, tapi kali ini entah karena masih terrpengaruh alcohol atau karena aku terlalu terangsang, maka kuterima saja kemaluannya di mulutku. Kupermainkan ujung kepalanya dgn lidah lalu turun ke batang kemaluan, kemudian tak lupa kantung bolanya dan terakhir kumasukkan kemaluan itu ke dalam mulutku, cukup kesulitan juga aku mengulum kemaluannya karena batang itu memang besar.

Dia mengocok mulutku dgn kemaluannya selama beberapa saat, cukup kewalahan juga aku menghadapi kocokannya untung, tak berlangsung lama. Pak Marlon kembali berada diantara kakiku, disapukannya kemaluannya ke bibir kemaluanku lalu mendorong tanpa kesulitan berarti hingga melesaklah kemaluan itu ke kemaluanku semua, aku merasa masih banyak ruang kosong di bagian dalam kemaluanku meski di bagian luarnya terasa penuh oleh besarnya batang kemaluan Pak Marlon.

“ehh.. sshh.. eeghghgh” aku mulai mendesah ketika Pak Marlon mulai mengocokkan kemaluannya, dgn cepat dia mengocokku seperti piston pada mesin mobil yang tancap gas, ada perbedaan rasa atas kocokan pada kemaluan yang tak disunat itu, gesekan pada dinding kemaluanku kurang greger, tapi tak mengurangi kenikmatan malahan menambah pengalaman, tanpa ampun pantatnya turun naik di atas badanku sambil menciumi leher jenjangku, kurasakan kenikmatan dari kocokannya dan kegelian di leherku.

Pak Marlon menaikkan badannya dan bertumpu pada lutut dia mengocokku, dgn posisi seperti ini aku bisa melihat expresi wajahnya yang kemerahan dibakar nafsu, tampak sekali rona merah diwajahnya karena kulitnya yang putih tipikal orang cina, wajah gantengnya bersemu kemerahan. Kutarik wajahnya dan kucium bibirnya karena gemas, kocokannya makin cepat dan keras, keringat sudah membasahi badannya meski belum terlalu lama kami bercinta. Kugoyangkan pantatku mengimbangi gerakannya, ternyata itu membuat dia melambung ke atas dan menyemprotlah spermanya di kemaluanku, kepala kemaluannya kurasakan membesar dan menekan dinding kemaluanku, denyutnya sampai terasa di bibir kemaluanku, lalu dia terkulai lemas setelah menyemprotkan spermanya hingga habis.

Agak kecewa juga aku dibuatnya karena aku bahkan belum sempat merasakan sensasi yang lebih tinggi, terlalu cepat bagiku, tak lebih dari sepuluh menit.
“sorry aku duluan” bisiknya di telingaku sambil badannya ditengkurapkan di atas badanku.
“nggak apa kok, ntar lagi” kataku menghibur diri sendiri, kudorong badannya dan dia rebah disampingku, dipeluknya badanku, dgn tetap telanjang kami berpelukan, napasnya masih menderu deru.
aku berdiri mengambil Marlboro putih dari tas tanganku, kunyalakan dan kuhisap dalam dalam dan kuhembuskan dgn keras untuk menutup kekesalan diriku.

“I need another kontol” pikirku kalut
Kulihat di HP ada SMS dari Riyo dgn pesan “namanya Rino, akan menghubungi mbak, dari Riyo”
Jarum jam sudah menunjukkan 23:20, berarti cukup lama aku tadi tak sadarkan diri sampai akhirnya “dibangunkan” Pak Marlon, kulihat Pak Marlon sudah terlelap kecapekan, kupandangi dia, dgn postur badan yang cukup atletis dan wajah yang ganteng sungguh sayang dia tak bisa bertahan lama, pikirku.

Kunyalakan Marlboro kedua untuk menurunkan birahiku yang masih tinggi setelah setelah mendapat rangsangan yang tak tuntas, lalu kucuci kemaluanku dari sperma Martin, kalau tak ingat menjaga wibawa seorang boss, sudah kuminta si Andre menemaniku malam ini, tapi ketepis angan itu karena akan merusak hubungan kerjaku dgnnya.
Kulayangkan pandanganku keluar, gemerlap lampu Kota Surabaya masih kukenali meski sudah bertahun tahun kutinggalkan. Kalau tak ada Pak Marlon mungkin sudah kuhubungi Riyo untuk segera mengirim Rino kemari, tapi aku jadi nggak enak sama dia.

Ketika akan kunyalakan batang rokok ketiga, kudengar bel pintu berbunyi, agak kaget juga ada tamu malam malam begini, kuintip dari lubang intip di pintu, berdiri sosok lelaki tegap dgn wajah ganteng seganteng Antonio Banderas, maka kukenakan piyama dan kubuka pintu tanpa melepaskan rantai pengamannya.

“mbak Sinta? saya Rino temannya Riyo” sapanya
Agak bingung juga aku, disatu sisi aku membutuhkannya apalagi dgn penampilan dia yang begitu sexy sementara di sisi lain masih ada Pak Marlon di ranjang.
“Sebentar ya” kataku menutup pintu kembali, terus terang aku nggak tahu bagaimana menentukan sikap, sebenarnya aku nggak keberatan melayani mereka berdua malah itu yang aku harapkan tapi bagaimana dgn Pak Marlon, rekanan bisnis yang baru beberapa jam yang lalu aku kenal, tentu aku harus menjaga citraku sebagai seorang bisnis perempuan professional, aku bingung memikirkannya.
“kudengar ada bel pintu, ada tamu kali” kata Pak Marlon dari ranjang
“eh..anu..enggak kok Pak” jawabku kaget agak terbata
“jangan panggil Pak kalau suasana begini, apalagi dgn apa yang baru saja terjadi, panggil Martin atau Koh Martin saja, toh hanya beberapa tahun lebih tua”
“iya teman lama, nggak penting sih, tapi kalau bapak keberatan aku suruh dia pulang biar besok dia kesini lagi” kataku
“ah nggak pa pa kok, santai saja” jawabnya ringan.

aku kembali membuka pintu tapi aku yang keluar menemui dia di depan pintu, kini kulihat jelas postur badannya yang tinggi dan atletis, umur paling banter 26 tahun, makin membuat aku kepanasan.

“di dalam ada rekanku, bilang aja kamu teman lama dan apapun yang terjadi nanti suka atau nggak suka kamu harus terima bahkan kalau aku memintamu untuk pulang tanpa melakukan apa apa kamu harus nurut, besok aku telepon lagi, aku mohon pengertianmu” kataku pada Rino tegas.
“Nggak apa mbak, aku ikuti saja permainan Mbak Sinta, aku percaya sama Riyo dan aku orangnya easy going kok mbak, pandai membawa diri” katanya lalu kupersilahkan masuk.
Kulihat Martin masih berbaring di ranjang dgn bertutupkan selimut. aku jadi canggung diantara dua lelaki yang baru kukenal ini sampai lupa mengenalkan mereka berdua, basa basi kutawari Rino minuman, tiba tiba Martin bangkit dari ranjang dan dgn tetap telanjang dia ke kamar mAndre. aku kaget lalu melihat ke Rino yang hanya dibalas dgn senyuman nakal.

“wah ngganggu nih” celetuk Rino
“ah enggak udah selesai kok”jawabku singkat
“baru akan mulai lagi, kamu boleh tinggal atau ikutan atau pergi terserah kamu, tapi itu tergantung sama Sinta” teriak Martin dari kamar mAndre, entah basa basi atau bercanda atau serius aku nggak tau.
“Riyo udah cerita sama aku mengenai mbak” bisik Rino pelan supaya tak terdengar Martin.

Martin keluar dari kamar mAndre dgn tetap telanjang, dia mendekatiku menarikku dalam pelukannya lalu mencium bibirku, tanpa mempedulikan keberadaan Rino dia melorotkan piyamaku hingga aku telanjang di depan mereka berdua. Kami kembali berpelukan dan berciuman, tangan Martin mulai menjamah buah dadaku, meraba raba dan meremasnya. Ciumannya turun ke leherku hingga aku mendongak kegelian, kemudian Martin mengulum putingku secara bergantian, kuremas remas rambutnya yang terbenam di kedua buah dadaku.

Kulihat Rino masih tetap duduk di kursi, entah kapan dia melepas baju tapi kini dia hanya mengenakan celana dalam mini merahnya, benjolan dibaliknya sungguh besar seakan celana dalamnya tak mampu menampung kebesarannya.
Badannya begitu atletis tanpa lemak di perut menambah ke-sexy-annya. Melihat potongan badannya berahiku menjadi cepat naik disamping rangsangan dan serbuan dari Martin di seluruh badanku, kupejamkan mataku sambil menikmati cumbuan Martin.

Ketika jilatan Martin mencapai selangkanganku, kuraskan pelukan dan rabaan di kedua buah dadaku dari belakang, kubuka mataku ternyata Martin sedang sibuk di selangkanganku dan Rino berada di belakangku. Sambil meraba raba Rino menciumi tengkuk dan menjilati telingaku membuat aku menggelinjang kegelian mendapat rangsangan atas bawah depan belakang secara bersamaan, terutama yang dari Rino lebih menarik konsentrasiku.

Mereka merebahkan badanku di ranjang, Martin tetap berkutat di kemaluanku sementara Rino beralih mengulum putingku dari kiri ke kanan. Kugapai kemaluan Rino yang menegang, agak kaget juga mendapati kenyataan bahwa kemaluannya lebih panjang, hampir dua kali punya Martin meski batangnya tak sebesar dia, tapi bentuknya yang lurus ke depan dan kepalanya yang besar membuat aku semakin ingin cepat menikmatinya, kukocok kocok untuk mendapatkan ketegangan maximum dari kemaluannya. Martin membalikkan badanku dan memintaku pada posisi doggie, Rino secara otomatis menempatkan dirinya di depanku hingga posisi kemaluannya tepat menghadap ke mukaku persisnya ke mulutku.

Untuk kedua kalinya Martin melesakkan kemaluannya ke kemaluanku dan langsung menyodok dgn keras hingga kemaluan Rino menyentuh pipiku. Kuremas kemaluan itu ketika Martin dgn gairahnya mengobok obok kemaluanku. Tanpa sadar karena terpengaruh kenikmatan yang diberikan Martin, kujilati Kemaluan Rino dalam genggamanku dan akhirnya kukulum juga ketika Martin menghentakkan badannya ke pantatku, meski tak sampai menyentuh dinding terdalam kemaluanku tapi kurasakan kenikmatan demi kenikmatan pada setiap kocokannya. Kukulum kemaluan Rino dgn gairah segairah kocokan Martin padaku, Rino memegang kepalaku dan menekan dalam dalam sehingga kemaluannya masuk lebih dalam ke mulutku meski tak semuanya tertanam di dalam. Sambil mengocok tangan Martin meraba raba punggungku hingga ke dadaku, sementara Rino tak pernah memberiku peluang untuk melepaskan kemaluannya dari mulutku.

“eegghhmm.. eegghh” desahku dari hidung karena mulutku tersumbat kemaluan Martin.
Tak lama kemudian Martin menghentikan kocokannya dan mengeluakan kemaluannya dari kemaluanku meski belum kurasakan orgasmenya, Rino lalu menggantikan posisi Martin, dgn mudahnya dia melesakkan kemaluannya hingga masuk semua karena memang batangnya lebih kecil dari kemaluan Martin, kini ini kurasakan dinding bagian dalam kemaluanku tersentuh, ada perasaan menggelitik ketika kemaluan Rino menyentuhnya. Dia langsung mengocok perlahan dgn penuh perasaan seakan menikmatai gesekan demi gesekan, makin lama makin cepat, tangannya memegang pinggangku dan menariknya berlawanan dgn gerakan badannya sehingga kemaluannya makin masuk ke dalam mengisi rongga kemaluanku yang tak berhasil terisi oleh kemaluan Martin.

Ada kenikmatan yang berbeda antara Martin dan Rino tapi keduanya menghasilkan sensasi yang luar biasa padaku saat ini. Cukup lama Rino menyodokku dari belakang, Martin entah kemana dia tak ada di depanku, mungkin dia meredakan nafsunya supaya tak orgasme duluan.
Rino lalu membalikku, kini aku telentang di depannya, ditindihnya badanku dgn badan sexy-nya lalu kembali dia memasukkan kemaluannya, dgn sekali dorong amblaslah tertelan kemaluanku, dgn cepat dan keras dia mengocokku, kemaluannya yang keras dgn kepala besar seakan mengaduk aduk isi kemaluanku, aku mendesah tak tertahan merasakan kenikmatan yang kudapat.

“eehh..yess..fuck me hard..yess” desahku mulai ngaco menerima gerakan Rino yang eksotik itu. Sambil mendesah kupandangi wajah tampan Antonio Banderas-nya yang menurut taksiranku tak lebih dari 26 tahun, membuat aku makin kelojotan dan tergila gila dibuatnya. Kulihat Martin berdiri di samping Rino, tatapan mataku tertuju pada kemaluannya yang terbungkus kondom yang menurutku aneh, ada asesoris di pangkal kondom itu, sepertinya ada kepala lagi di pangkal kemaluannya. Kulihat dia dan dia membalas tatapanku dgn pandangan dan senyum nakal.

Ditepuknya pundak Rino sebagai isyarat, agak kecewa juga ketika Rino menarik keluar kemaluannya disaat saat aku menikmatinya dgn penuh nafsu. Tapi kekecewaan itu tak berlangsung lama ketika Martin menggantikan posisinya, begitu kemaluannya mulai melesak masuk kedalam tak kurasakan perbedaannya dari sebelumnya tapi begitu kemaluannya masuk semua mulailah efek dari kondom berkepala itu kurasakan, ternyata kepala kondom itu langsung menggesek gesek klitorisku saat Martin menghunjam tajam ke kemaluanku, klitorisku seperti di gelitik gelitik saat Martin mengocok kemaluanku, suatu pengalaman baru bagiku dan kurasakan kenikmatan yang aneh tapi begitu penuh gairah.

Martin merasakan kemenangan ketika badanku menggelinjang menikmati sensasinya. Rino kembali mengulum putingku dari satu ke satunya, lalu badannya naik ke atas badanku dan mekangkangkan kakinya di kepalaku, disodorkannya kemaluannya ke mulutku, aku tak bisa menolak karena posisinya tepat mengarah ke mulut, kucium aroma kemaluanku masih menempel di kemaluannya, langsung kubuka mulutku menerima kemaluan itu. Sementara kocokan Martin di kemaluanku makin menggila, kenikmatannya tak terkirakan, tapi aku tak sempat mendesah karena disibukkan kemaluan Rino yang keluar masuk mulutku. aku menerima dua kocokan bersamaan di atas dan dibawah, membuatku kewalahan menerima kenikmatan ini. 

Setelah cukup lama mengocokku dgn kondom kepalanya, Martin menarik keluar kemaluannya dan melepaskan kondomnya lalu dimasukkannya kembali ke kemaluanku, tak lama kemudian kurasakan denyutan dari kemaluan Martin yang tertanam di kemaluanku, denyutannya seakan memelarkan kemaluanku karena terasa begitu membesar saat orgasme membuatku menyusul beberapa detik kemudian, dan kugapailah kenikmatan puncak dari permainan sex, kini aku bisa mendapatkan orgasme dari Martin. Tahu bahwa Martin telah mendapatkan kepuasannya, Rino beranjak menggantikan posisi Martin, tapi itu tak lama, dia memintaku untuk di atas dan kuturuti permintaannya.
Rino lalu telentang di sampingku, kunaiki badannya dan kuatur badanku hingga kemaluannya bisa masuk ke kemaluanku tanpa kesulitan berarti.

aku langsung mengocok kemaluannya dgn gerakan menaik turunkan pantatku, buah dadaku yang menggantung di depannya tak lepas dari jamahannya, diremasnya dgn penuh gairah seiring dgn kocokanku. Gerakan pinggangku mendapat perlawanan dari Rino, makin dia melawan makin dalam kemaluannya menancap di kemaluan dan makin tinggi kenikmatan yang kudapat. Karena gairahku belum turun banyak saat menggapai orgasme dgn Martin, maka tak lama kemudian kugapai lagi orgasme berikutnya dari Rino, denyutanku seolah meremas remas kemaluan Rino di kemaluanku.

“OUUGGHH.. yess.. yess.. yess” teriakku
Rino yang belum mencapai puncaknya makin cepat mengocokku dari bawah, badanku ambruk di atas dadanya, sambil tetap mengocokku dia memeluk badanku dgn erat, kini aku Cuma bisa mendesah di dekat telinganya sambil sesekali kukulum. Tak berapa lama kemudian Rino pun mencapai puncaknya, kurasakan semprotan sperma dan denyutan yang keras di kemaluanku terutama kepala kemaluannya yang membesar hingga mengisi semua kemaluanku.

“oouuhh..yess..I love it” teriakku saat merasakan orgasme dari Rino.
Kurasakan delapan atau sembilan denyutan keras yang disusul denyutan lainnya yang melemah hingga menghilang dan lemaslah batang kemaluan di kemaluanku itu.
Kami berpelukan beberapa saat, kucium bibirnya dan akupun berguling rebahan di sampingnya, Rino memiringkan badannya menghadapku dan menumpangkan kaki kanannya di badanku sambil tangannya ditumpangkan di buah dadaku, kurasakan hembusan napasnya di telingaku.

“mbak Sinta sungguh hebat” bisiknya pelan di telingaku.
aku hanya memandangnya dan tersenyum penuh kepuasan. Cukup lama kami terdiam dalam keheningan, seolah merenung dan menikmati apa yang baru saja terjadi.
Akhirnya kami dikagetkan bunyi “beep” satu kali dari jam tangan Rino yang berarti sudah jam 1 malam.
“Rino, kamu nginap sini ya nemenin aku ya, Koh Martin kalau nggak keberatan dan tak ada yang marah di rumah kuminta ikut nemenin, gimana?” pintaku
“Dgn senang hati” jawabnya gembira, Rino hanya mengangguk sambil mencium keningku.

Kami bertiga rebahan di ranjang, kumiringkan badanku menghadap Martin, kutumpangkan kaki kananku ke badannya dan tanganku memeluk badannya, sementara Rino memelukku dari belakang, tangannya memegang buah dadaku sementara kaki kanannya ditumpangkan ke pinggangku.Tak lama kemudian kami tertidur dalam kecapekan dan penuh kenangan, aku berada ditengah diantara dua lelaki yang baru kukenal beberapa jam yang lalu.

Entah berapa lama kami tidur dgn posisi seperti itu ketika kurasakan ada sesuatu yang menggelitik kemaluanku, kubuka mataku untuk menepis kantuk, ternyata Rino berusaha memasukkan kemaluannya ke kemaluanku dari belakang dgn posisi seperti itu. Kuangkat sedikit kaki kananku untuk memberi kemudahan padanya, lalu kembali dia melesakkan kemaluannya ke kemaluanku, aku masih tak melepaskan pelukanku dari Martin sementara Rino mulai mengocokku dari belakang dgn perlahan sambil meremas remas buah dadaku. Tanganku pindah ke kemaluan Martin dan mengocoknya hingga berdiri, tapi anehnya Martin masih memejamkan matanya, sepuluh menit kemudian Rino kurasakan denyutan kuat dari kemaluan Rino pertanda dia orgasme, tanpa menoleh ke Rino aku melanjutkan tidurku, tapi ternyata Martin sudah bangun, dia memintaku menghadap ke Rino ganti dia yang mengocokku dari belakang seperti tadi sambil aku memeluk badan Rino dan memegangi kemaluannya yang sudah mulai melemas.

Berbeda dgn kocokan Rino yang pelan pelan, Martin melakukan kocokan dgn keras disertai remasan kuat di buah dadaku sampai sesekali aku menjerit dalam kenikmatan, cukup lama Martin mengocokku hingga aku mengalami orgasme lagi beberapa detik sebelum dia mengalaminya, kemudian kami melanjutkan tidur yang terputus.

Kami terbangun sekitar pukul delapan ketika telepon berbunyi, kuangkat dan ternyata dari Andre.
“pagi bu, udah bangun?” tanyanya dari seberang
“pagi juga Andre, untung kamu bangunin kalau tak bisa ketinggalan meeting nih, oke kita ketemu di bawah pukul 9, tolong di atur tempat meetingnya, cari yang bagus” jawabku memberi perintah
“beres bu” jawabnya
“Martin, aku ada meeting dgn Pak Roni jam 10, kamu bagaimana?” tanyaku
“lho meetingnya kan juga sama sama aku” jawab Martin
“oh ya? dia tak pernah cerita tuh, dia Cuma bilang meetingnya antara aku, dia dan satu orang lagi rekannya”
“oke anyway, aku tak mau datang ke tempat meeting dgn pakaian yang sama dgn kemarin”
“Ayo mAndre lalu kita cari pakaian di bawah” kataku
“Rino, kamu boleh tinggal disini atau pergi, tapi yang jelas aku nanti memerlukanmu setelah meeting” kataku sambil menuju ke kamar mAndre menyusul Martin yang mAndre duluan.

Kami berdua mAndre dibawah pancuran air hangat, kami saling menyabuni satu sama lain, dia memelukku dari belakang sambil meremas remas buah dadaku dan menjilati telingaku, kuraih kemaluannya dan kukocok, badan kami yang masih berbusa sabun saling menggesek licin, ternyata membuatku lebih erotis dan terangsang. Tanpa menunggu lebih lama kuarahkan angkat kaki kananku dan mengarahkan kemaluannya ke kemaluanku, dgn ketegangannya ditambah air sabun maka mudah baginya untuk masuk ke dalam, Martin langsung menancapkan sedalam dia bisa. Pancuran air panas membasahi badan kami berdua lebih romantis rasanya, tapi itu tak berlangsung lama ketika Martin menyemprotkan spermanya di dalam kemaluanku, tak banyak dan tak kencang memang tapi cukuplah untuk memulai hari ini dgn dgn penuh gairah.

Setelah mAndre aku mengenakan pakaian kerja resmi, entah mengapa kupilih pakaian yang resmi tapi santai, mungkin karena terpengaruh perasaanku yang lagi bergairah maka tanpa bra kukenakan tank top dan kututup dgn blazer untuk menutupi putingku yang menonjol di balik tank top-ku, lalu kupadu dgn rok mini sehingga cukup kelihatan resmi, aku merasa sexy dibuatnya.

Kutinggalkan amplop berisi uang di meja dan kucium Rino.
“Kalau kamu mau mau keluar ada uang di meja, ambil saja ntar aku hubungi lagi, kalau mau tinggal up to you be my guest” bisikku yang dibalas ciuman dan remasan di buah dadaku.

Pukul 9:15 kami keluar kamar, bersamaan dgn Andre keluar dari kamarnya tepat ketika aku keluar bersama Martin dan Rino memberiku ciuman di depan pintu, dia menoleh ke arah kami tapi segera memalingkan wajahnya ke arah lain seolah tak melihat, tapi aku yakin dia melihatnya.

“Morning Andre” sapaku
“eh morning Bu, ruang meeting sudah aku atur dan semua dokumen sudah saya siapkan, copy file-nya ada di laptop ibu” jawabnya memberi laporan ketika kami menuju lift.
“Thanks Ndi” jawabku singkat.

Kami bertiga terdiam di lift, aku yang biasanya banyak bicara mencairkan suasana jadi kaku dan salah tingkah, masih memikirkan apa yang ada di pikiran Andre bahwa aku keluar dari kamar dgn seorang lelaki dan ada lelaki lainnya di kamarku, ah persetan pikirku, saking kikuknya sampai aku lupa mengenalkan Martin pada Andre. Dalam kebekuan kuamati Andre dari bayangan di cermin lift, baru kusadari kalau sebenarnya Andre mempunyai wajah tampan dan berwibawa, meski umurnya baru 27 tahun tapi ketegasan tampak di kerut wajahnya. Sedikit lebih tinggi dariku tapi karena aku pakai sepatu hak tinggi, maka kini aku lebih tinggi darinya, posturnya badannya cukup proporsional karena dia sering cerita kalau fitness secara teratur 3 kali seminggu, aku baru sadar bahwa selama ini aku nggak pernah melihat Andre sebagai seorang lelaki, tapi lebih kepada pandangan seorang Bos ke anak buahnya.

Diluar dugaan, Andre ternyata memergokiku saat mengamatinya, pandangan mata kami bertemu di pantulan cermin.
“Ting”, untunglah lift terbuka, aku segera keluar menghindar dari pandangan Andre, kami langsung breakfast setelah terlebih dulu mencarikan Martin pakaian dan dasi pengganti, meski Shopping Arcade masih belum buka karena terlalu pagi, tapi dgn sedikit paksaan akhirnya mereka mau juga melayani kami.
“Eh Bu Sinta, saya kok belum dikenalin dgn Mas ini” Tanya Martin bersikap resmi, mengingatkanku akan kekonyolanku pagi ini.
“Oh iya, Andre, ini Pak Marlon, clien dari Pak Roni yang akan menjual produk kita ke Cina yang berarti Clien kita juga, dan nanti Pak Marlon akan gabung dgn kita di meeting” kataku yang disambut uluran tangan Martin ke Andre.
“Pak Marlon, Andre ini salah satu orang kepercayaan saya, dialah yang in charge nanti, meski baru dua tahun ikut saya tapi naluri bisnisnya boleh di uji” lanjutku memuji Andre, itu biasa kulakukan untuk memperbesar rasa percaya diri anak buah sekaligus supaya
clien lebih confident.

Ini adalah breakfast terlama yang pernah aku alami, serba salah tingkah dan yang pasti aku tak berani memandang Andre, entah mengapa. Untunglah Martin bisa mencairkan suasana bengan berbagai joke-nya.

Bertiga kami masuk ke ruang meeting yang sudah di booking Andre, ternyata cukup nyaman suasananya, tak seperti ruang meeting biasa yang kaku dan menjemukan, tapi lebih terkesan bernuansa santai tapi serius, Meeting table bulat dgn dikelilingi 6 kursi putar, sementara dipojokan ada sofa dan meja kecil, di ujung yang lain terdapat tea set lengkap dgn electric kettle.

aku dan Andre duduk bersebelahan menyiapkan dokumen di meja, kuletakkan laptop di depanku, Pak Marlon duduk di sebelah kiriku.
“Ndi tolong nyalakan laptop, aku ke toilet sebentar” kataku sambil meninggalkan mereka berdua. Kuhabiskan sebatang Marlboro di toilet untuk menghilangkan keteganganku dan kurapikan baju dan make up ku.
Pak Roni sudah berada di ruangan ditemani dgn wanita yang muda dan cantik ketika aku kembali ke ruangan meeting.
“Pagi Pak Roni, pagi Bu” sapaku sambil menyalami mereka berdua
“Pagi juga Mbak Sinta, anda kelihatan cantik pagi ini” kata Pak Roni
“emang selama ini nggak cantik” jawabku
“Sinta” sapaku pada wanita di samping Pak Roni sambil mengulurkan tangan
“Linda” jawabnya sambil tersenyum manis
“bukan begitu, tapi pagi ini lebih cantik dan cerah”
“Oh Mbak Linda, selama ini kita hanya bertemu lewat telepon dan faximile” kataku lagi
“dan sekarang inilah dia orangnya” lanjut Pak Roni.

Ternyata Andre belum menyalakan laptopku, agak marah juga aku melihat dia tak melaksanakan perintahku, maka dgn mata melotot ke arahnya kuambil kembali laptopku dari hadapannya lalu kunyalakan. Betapa terkejutnya aku ketika laptop itu menyala, tampak di monitor laptopku seorang wanita sedang telentang menerima kocokan di kemaluannya sementara mulutnya mengulum kemaluan kedua dan tangan satunya memegang kemaluan ketiga, aku baru tersadar kalau sebelum berangkat dari kantor kemarin sempat membuka koleksi pic yang ada laptop-ku dan karena buru buru mungkin saat mematikan laptop bukan “shut down” yang aku pilih tapi “stand by”. Mukaku merah dibuatnya, untung tak ada yang memperhatikan, langsung aku “re-booting”, kulirik Andre tapi dia menyiapkan document dan tak memperhatikanku, pantesan dia langsung mematikannya, pikirku. aku jadi lebih salah tingkah lagi terhadap Andre, tapi segera aku kembali konsentrasi untuk meeting ini.sakong-klik-qq-728

Meeting dimulai dgn presentasi Andre dan dilakukan tanya jawab, justru yang banyak bertanya adalah Linda dan itu dilayani dgn cekatan oleh Andre, sementara aku Cuma kadang kadang saja menguatkan pendapat Andre atau membantunya membuat keputusan untuk menerima atau klarifikasi, hal ini kulakukan untuk lebih meyakinkan Linda maupun Pak Roni disamping untuk memperbesar rasa percaya diri pada Andre. Cukup alot juga pembicaraan antara mereka berdua, tapi aku tak mau mencampuri sebelum dia benar benar kepepet. aku kagum sama Linda yang cantik tapi piawai dalam negosiasi.

Setelah masalah teknis dan kontrak selesai sampailah pada masalah harga dan itu adalah tugasku dgn Pak Roni, dgn beberapa alternatif harga yang aku tawarkan akhirnya dicapailah kesepakatan.
“Ndi, kamu revisi dan di print di Business Center supaya bisa ditandatangani sekarang juga, jangan lupa materei-nya” perintahku
“baik bu”jawabnya lalu dia keluar sambil membawa laptopku dokumen dokumen yang diperlukan.
Kupesan champagne merayakan kerja sama ini ketika Andre sudah meninggalkan ruangan.
“Selamat Mbak Sinta semoga sukses dgn kerja sama kita ini” Pak Marlon menyalamiku sambil mencium kedua pipiku.
aku menyalami lalu memeluk Linda dan menempelkan pipiku padanya.
“Anda begitu hebat dalam negosiasi” kataku
Tanpa kuduga dia menjawab berbisik di telingaku.
“terima kasih, Pak Roni tahu lho apa yang terjadi tadi malam di tempat Ibu”
“oh ya? apa itu”jawabku kaget
“Pak Marlon menginap di tempat mbak” katanya pelan mengagetkanku
“dan satu orang cowok lagi” lanjutnya
Kulepas pelukannya dan kupandangi Linda yang masih kelihatan polos itu, lalu pandanganku beralih ke Martin sebagai protes, tapi dia hanya mengerutkan kening dan mengangkat bahu saja sambil senyum.
Tak sempat terbengong lebih lama, Pak Roni menyalamiku
“Selamat atas kerja sama kita” katanya sambil menyalamiku dan tak kusangka sangka dia menarik badanku ke pelukannya
“I know what you did last night” katanya sambil mempererat pelukannya dan mengelus elus punggungku.
aku masih tertegun tak merespon ucapan maupun tindakan Pak Roni, tapi kurasakan buah dadaku tergencet di dadanya saat dia memelukku erat.
“Pak Roni banyak orang, malu ah” jawabku pelan
“banyak orang? ini kan kita kita juga” jawabnya tanpa melepas pelukannya tapi malah meremas pantatku
Kulirik Pak Marlon, dia hanya bediri di pojok melihat kami, sementara Linda malah mendekat ke Pak Marlon.
“Mari kita rayakan kerja sama ini dgn penuh persahabatan” bisiknya sambil mencium pipi dan bibirku bersamaan dgn tangannya menyingkap rok miniku hingga ke pinggang, aku yakin Linda maupun Martin bisa melihat celana dalam model “Thong” yang hanya terdapat penutup segitiga kecil di depan, hingga pasti mereka sudah melihat pantatku.

Ciuman Pak Roni sudah sampai di leherku, dilepasnya blazer yang menutupi bagian luarku hingga tampak tank top pink yang kukenakan dibaliknya. Dgn hanya mengenakan tank top, maka tampaklah putingku yang menonjol di baliknya.

Sebenarnya aku bisa saja menolak cumbuan Pak Roni kalau mau, tapi melihat pandangan Pak Roni yang penuh wibawa dan wajahnya yang galak tegas membuat aku takluk dalam pelukan dan ciumannya. Bukan ketakutan masalah bisnis, aku yakin sebagai seorang professional dia bisa membedakan antara bisnis dan pribadi, tapi memang pada dasarnya aku juga mau dicumbunya.

Kulihat Pak Marlon sudah berciuman dgn Linda sementara tangannya meremas remas buah dada Linda yang montok itu.
Pak Roni lalu menelentangkan badanku di atas meja meeting, disingkapkan rokku dan dari celah celana dalam mini dia mulai menciumi dan menjilati kemaluanku dgn gairahnya.

Tiba tiba kami dikagetkan ketukan di pintu, segera aku berdiri dan membetulkan rok miniku dan kuambil blazerku, tapi Pak Roni memberi tanda supaya nggak usah dipakai.
Linda membuka pintu, ternyata room boy yang mengantar champagne pesananku, Linda menerima dan menyelesaikan pembayarannya ke kamarku dan dia minta supaya di depan pintu diberi tanda “DO NOT DISTURB”, setelah mengunci pintu Linda membuka dan menuangkan untuk kami.

Pak Roni tak mau kehilangan waktu, begitu pintu ditutup, dia kembali memelukku lalu menurunkan tali tank top ku hingga ke tangan, setelah meremas remas sambil mencium leherku, ditariknya tank topku hingga ke perut, maka terpampanglah buah dadaku di depan semua orang.
“wow, very nice breast, begitu kencang, I love it” komentar Pak Roni lalu kepalanya dibenamkan di antara kedua bukit itu sambil tangannya meremas remasnya. Ciumannya dgn cepat berpindah ke puncak bukit dan secara bergantian dia mengulum dari satu puncak ke puncak lainnya. Dgn cepat ciuman Pak Roni turun ke perut dan selangkanganku setelah terlebih dahulu melemparkan tank top ke Martin dan kembali merebahkan aku di meja meeting, dijilatinya kemaluanku dari balik celana dalamku.

Martin mendekatiku dari atas lalu mencium bibirku dan meremas buah dadaku kemudian mengulum putingnya, sementara jilatan Pak Roni makin menggila di kemaluanku, tapi aku tak berani mendesah. Linda sudah melepas blazernya hingga kelihatan buah dadanya yang montok menantang dibalik kaos you can see ketatnya, dia hanya duduk memperhatikan kami, tak seorangpun menyentuh champagne yang sudah kupesan, ternyata akulah yang menjadi santapan selamat, bukan champagne itu. Disaat aku lagi meregang dalam kenikmatan, kembali kami dikagetkan suara handle pintu dibuka, lalu berganti dgn ketukan.

“Andre” teriakku panik aku tak ingin Andre melihatku dalam keadaan seperti ini, akan mengurangi wibawaku dimatanya.
Kudorong kepala Pak Roni dgn halus, aku mencari tank top atau blazerku tapi terlambat, Linda sudah membuka dgn hati hati pintu itu dan masuklan Andre dgn membawa laptop dan dokumen dokumennya sebelum aku sempat menutupi badan atasku.

Kulihat wajah Andre melongo terkaget kaget melihat aku duduk di meja meeting dalam keadaan topless dan kaki di atas kursi, sementara Pak Roni masih jongkok di bawahku dan Martin ada dibelakangku dgn bertelanjang dada.
“eh ma..ma..maaf mengganggu” katanya lalu berbalik ke pintu, tapi Linda segera menghalangi dan menutup kembali pintu itu.
“Udah duduk saja di sini” jawab Linda sambil menghalangi pintu itu dgn badannya.
“tapi..tapi ..tapi ini harus ditandatangani” jawabnya belum sadar dgn apa yang terjadi.
“nggak ada tapi, tanda tangan mah gampang, sini aku Bantu” kata Linda sambil mengambil dokumen dan laptop dari tangan Andre dan meletakkannya di meja pojok ruangan di samping champagne..
“taruh di sini saja, kamu lihat sendiri kan mereka sedang sibuk” kata Linda sambil menarik Andre duduk disebelahnya di sofa.
Kulihat wajah Andre masih melongo kaget melihat bagaimana tingkah lakuku.
“Sudah terlambat, persetan, apa yang terjadi terjadilah” pikirku dan kembali telentang di meja menuruti permintaan Pak Roni, dipelorotnya rok mini dan celana dalamku.

Pada mulanya agak risih juga bertelanjang di depan Andre tapi selanjutnya sudah tak kuperhatikan lagi kehadiran Andre di ruangan itu ketika lidah Pak Roni dgn cantiknya kembali menggelitik klitorisku. Martin membimbing tanganku dan dipegangkan ke kemaluannya yang sudah tegang, ternyata dia sudah mengeluarkan kemaluannya dari lubang resliting, tanpa menunggu lebih lama kukocok kemaluan itu.

Pak Roni melepas celana dalamku dan dilemparkannya ke arah Linda dan Andre, ternyata Linda sudah duduk di pangkuan Andre dan mereka sedang berciuman.
Pak Roni menarikku duduk di tepi meja, ternyata dia masih berpakaian lengkap, kubantu melepaskan pakaiannya, lalu aku jongkok di depannya, kupelorotkan celananya, ternyata dia tak memakai celana dalam, dan wow kemaluannya yang menegang membuatku terpesona, besar dgn guratan otot di batangnya menonjol dgn jelas.

Segera kujilati kepala kemaluannya dan memasukkan kepala kemaluannya ke mulutku, kupermainkan dgn lidahku di dalam, tak tahan diperlakukan seperti itu, Pak Roni menaikkanku kembali duduk di meja, disapukannya kepala kemaluan itu ke bibir kemaluanku, pelan pelan mendorong hingga masuk semua lalu didiamkannya sejenak, maka melesaklah kemaluan kedua di hari untuk kemaluanku. Dia memandangku dgn penuh nafsu, mencium bibirku, lalu mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur mengocok kemaluanku, tangannya meraba buah dadaku lalu wajahku dan jarinya dimasukkan ke mulutku, kukulum dan kupermainkan jarinya dgn lidahku.

Pak Marlon mendekat lalu meremas remas buah dadaku, kuraih kemaluannya yang masih tegang nongol dari lubang resliting dan kukocok seirama kocokan Pak Roni.
Kudengar desahan dari tempat lain, ternyata Linda sudah semi telanjang di pangkuan Andre sedang mendapat kuluman dan remasan darinya di kedua putingnya, buah dada Linda yang montok itu hampir menutup wajah Andre yang sedang terbenam di celah celahnya. Melihat hal itu, Pak Marlon meninggalkan kami menuju ke Linda dan Andre, segera dia mengulum puting Linda yang merah menantang berbagi dgn Andre, mendapat kuluman dari dua orang, Linda sepertinya ingin teriak tapi ditahannya dgn menggigit jarinya.

Setelah puas mengocokku dari depan sambil meremas remas buah dadaku, Pak Roni memintaku berbalik, maka aku berdiri membelakangi dia dan badanku membungkuk ke depan bertumpu pada meja, kaki kananku kunaikkan di kursi, Pak Roni kembali melesakkan kemaluannya di kemaluanku, dia mengocok dgn kerasnya hingga meja meeting itu begoyang goyang. Dgn posisi seperti ini aku bisa melihat Linda sedang duduk di sofa menerima jilatan Andre di kemaluan mengulum kemaluan Pak Marlon yang berdiri di sampingnya.

Kocokan Pak Roni serasa menggesek semua sisi dinding kemaluanku, begitu nikmat hingga aku melayang dibuatnya, ingin aku menjerit karenanya tapi kutahan dgn menggigit bibirku.

Terbuai oleh kenikmatan dari Pak Roni, tanpa kusadari ternyata Linda, Andre dan Martin ternyata sudah bergeser ke meja di dekatku hingga aku bisa melihat dgn jelas bagaimana Andre mempermainkan klitoris Linda sambil mengocokkan jarinya, ternyata dia sudah mahir juga, batinku. Sementara Pak Marlon berada di antara aku dan Linda, sambil mengulum puting Linda dia meremas buah dadaku.

Terkaget aku ketika melihat Andre mengusapkan kemaluannya di kemaluan Linda, ternyata kemaluan Andre begitu besar, sepertinya jauh lebih besar dari punya Pak Roni apalagi Pak Marlon, mungkin sama besar dgn punya suamiku tapi dgn bentuk yang melengkung ke atas membuatku ingin menikmatinya, itu adalah bentuk kemaluan favoritku.
Sepertinya dia kesulitan memasukkan kemaluan besarnya ke kemaluan Linda, berulang kali dia berusaha memasukkan tapi gagal meski kemaluan Linda sudah basah, dicoba lagi dan dicoba lagi hingga berhasil meski hanya separuh, tapi Linda sudah menggelinjang gelinjang entah kesakitan atau ke-enak-an. Kupegang tangannya dan dia meremasnya dgn kuat saat Andre berusaha mendorong lebih dalam, memasukkan mili demi mili kemaluannya ke dalam kemaluan Linda. Sementara kocokan Pak Roni juga tak kalah nikmatnya, goyangannya semakin bervariasi menghunjam kemaluanku dari berbagai arah dan gerakan. Tangan kami saling meremas dalam kenikmatan.

Andre mulai mengocok Linda dgn perlahan dan semakin lama semakin cepat, desah tertahan keluar dari hidung Linda, dia kelojotan menerima kocokan Andre meskipun pelan menurutku, sambil meremas buah dada Linda Andre mulai mempercepat dan menyodok dgn keras. Remasan tangan Linda makin kencang, sekencang kocokan Andre padanya.
“Aaauughh..eeghh..ss” teriak Linda tak dapat menahan kenikmatan yang diberikan Andre.
“sstt” bisikku sambil menutupkan tanganku ke mulutnya, meski aku sendiri sedang terbakar nafsu dan kenikmatan.

Andre mengocok Linda dgn penuh gairah nafsu, buah dada Linda yang besar bergoyang goyang liar seiring dgn kocokannya, tapi segera dihentikan dgn kuluman Pak Marlon yang sepertinya nggak rela membiarkan buah dada itu bergoyang sendirian.

Kokocakan Pak Roni sungguh bervariasi, baik kecepatan, arah maupun goyangannya, sungguh trampil dia dalam bercinta, membuatku panas dingin dibuatnya.
Setelah puas mengocokku, Pak Roni menarik keluar kemaluannya, dan digantikan dgn Pak Marlon mengocokku. aku berjongkok di kursi dan tanganku bersandarkan sandaran kursi hingga Pak Marlon mengocokku dgn doggie style dgn tetap menghadap ke Linda dan Andre dan juga Pak Roni yang kini berdiri di sisi Andre menunggu giliran sambil meremas dan mengulum buah dada Linda yang montok manantang itu menggantikan posisi Pak Marlon.
cerita sex,cerita dewasa,cerita mesum,cerita ngentot, ngentot artis, cerita bokep, Cerita panas

Andre mengocok Linda makin ganas, dgn satu kaki terangkat di pundaknya sedang satu kaki lagi dipegang tangannya dgn posisi terpentang pasti kemaluan Andre melesak masuk ke kemaluan Linda hingga menyentuh dinding terdalamnya, dgn disertai dorongan yang keras pasti Linda sudah terbang ke awang awang kenikmatan.
Andre lalu memiringkan badan Linda hingga dia menghadap ke arahku, lalu dia kembali mengocoknya dgn keras, buah dada Linda ikut bergoyang goyang seirama kocokan Andre. “gila hebat juga ini anak” batinku.

Kocokan Pak Marlon tak terlalu kuperhatikan karena setelah mendapatkan Pak Roni punya Pak Marlon taklah terlalu berasa meski aku bisa menikmati sedikit kenikmatan yang berbeda, dgn melihat bagaimana Andre memperlakukan Linda aku bisa dgn cepat bergairah kembali, maka kugoyangkan pantatku melawan gerakan Pak Marlon, secepat kocokan Andre pada Linda, aku begitu horny dibuatnya, sambil berharap supaya Andre tak orgasme di kemaluan Linda terlebih dahulu supaya aku bisa menikmati semprotan pertamanya.

Sambil menunggu giliran yang belum juga diberikan Andre, Pak Roni menggapai buah dadaku dan tangan satunya meremas buah dada Linda yang lebih montok seolah hendak membAndrengkan, kedua tangannya meremas dua buah dada yang berlainan bentuk dan ukuran.

aku sudah khawatir cemas kalau ternyata Andre menyemprotkan spermanya di kemaluan Linda terlebih dahulu, karena sudah cukup lama dia mengocokkan kemaluannya ke kemaluan Linda, sudah setengah jam lebih.
“gila kuat juga si Andre ini” batinku.

Kini Andre mengocok Linda dgn posisi doggie di atas kursi, meniru posisiku hingga kami saling berhadapan, buah dada Linda yang besar menggantung dan bergoyang dgn indahnya ketika Andre mengocoknya, Pak Roni yang masih menunggu giliran dari Andre duduk di meja antara kami, hingga kami bisa mengulumnya secara bersamaan antara kuluman dan jilatan. Linda mengulum maka aku menjilati sisanya begitu juga sebaliknya, dua lidah di satu kemaluan.

Mendapatkan perlakuan seperti itu dari dua wanita cantik seperti aku dan Linda membuat Pak Roni merem melek, tangannya meremas rambutku juga rambut Linda. Sepertinya Linda sudah bisa merasakan nikmatnya kemaluan Andre yang besar itu hingga dia bisa membagi konsentrasi dgn kuluman pada kemaluan Pak Roni.

Andre menghentikan kocokannya dan menyerahkan Linda ke Bos-nya dan mereka bertukar tempat, Andre mengganti posisi pada mulut Linda setelah terlebih dahulu memutar kursi Linda menjauh dariku, kecewa juga aku dibuatnya karena tak bisa menikmati kemaluan Andre itu, ingin minta tapi masih ada perasaan segan atau gengsi. Masih bisa kulihat dgn lebih jelas betapa nikmatnya kemaluan Andre itu hingga Linda mengulum dgn ganasnya meski tak bisa memasukkan semuanya.


aku yakin Linda kurang bisa menikmati Pak Roni setelah merasakan kemaluan Andre. Kocokan Pak Marlon tak kuperhatikan lagi, tapi aku lebih menikmati kuluman Linda pada kemaluan Andre itu meski Pak Marlon mulai melakukan variasi gerakannya, tangannya mengelus punggung dan buah dadaku, dia lalu memutar kursi hingga aku dan Linda berjejer, tapi Andre malah menggeser badannya ke sisi lain malah menjauhiku.

Pak Roni meremas buah dadaku sambil mengocok Linda, sementara Pak Marlon meremas buah dada Linda sambil mengocokku dan Andre meremas remas buah dada montok yang satunya dari sisi lainnya, kini Linda mendapat servis dari tiga orang, sementara aku menginginkan Andre tapi dia selalu menghindariku sepertinya dia segan menyentuhku.

“come on Andre, satu remasan atau satu kuluman saja darimu, I need you” jerit batinku tapi kembali rasa gengsi sebagai Bos terhadap dia masih tinggi. Andre berciuman dgn Linda sambil tangannya tetap meremas buah dadanya, aku iri melihatnya, bahkan ketika Pak Roni dan Pak Marlon bertukar tempat, Andre tetap tak mau beranjak ke arahku. Kembali aku mendapat kocokan dari Pak Roni, oh much better than before, kurasakan kenikmatan kembali dari Pak Roni, ouh betapa nikmatnya sodokan dan kocokan beliau jauh lebih nikmat dibAndreng dgn Pak Marlon tadi, kini aku kembali tenggelam dalam kenikmatan birahi. Tapi itu tak berlangsung lama ketika Pak Roni dan Pak Marlon bertukaran tempat lagi, hingga tiga kali.

Tak lama kemudian ketika Pak Roni sedang keras kerasnya menyodokku, kembali aku dibuat iri pada Linda saat Pak Marlon dan Andre bertukar tempat, Linda sudah mendapat kocokan Andre untuk kedua kalinya, kepalanya mendongak dan badannya menggeliat ketika Andre memasukkan kembali kemaluannya tapi tak lama setelah itu dia sudah mulai mengulum kemaluan Pak Marlon. Pak Roni kembali meremas remas buah dada Linda sambil mengocokku tapi Andre tak mau melakukan hal itu padaku, dia tetap serius mengocok Linda sampai berulang kali dia menggeliat ketika Andre mengocoknya dgn keras. “Linda sudah mendapatkan tiga kemaluan, di mulut maupun kemaluan, tapi aku baru dua, itupun kurang memuaskanku” teriak batinku.

Kupandangi wajah Andre ketika mengocok Linda begitu ganteng dan cool, expresinya tak berubah seperti biasa saja kecuali keringatnya yang menetes membasahi badannya yang atletis itu sehingga makin sexy. Belum sekalipun Andre menyentuhku, entah dia mau menghukumku atau karena segan, aku tak tahu.

Kuhibur diriku dgn berkonsentrasi pada kocokan Pak Roni, aku tak mau tersiksa terlalu lama mengharapkan Andre, maka kugerakkan pinggangku mengimbangi Pak Roni dan hasilnya sungguh luar biasa, dia bergerak semakin liar dan akhirnya tak bisa bertahan lama, maka menyemprotlah spermanya ke kemaluanku dgn kencangnya, kurasakan denyutan yang keras dari kemaluannya di dalam kemaluanku seakan menghantam dinding rahimku. Bersamaan dgn semprotan Pak Roni, ternyata Pak Marlonpun menyemprotkan spermanya di muka Linda, sperma itu menyemprot kemana mana baik di mulut, wajah dan sebagian ke rambutnya.

Pak Roni menarik kemaluannya yang sudah lemas begitupun dgn Pak Marlon, aku belum mencapai orgasme, hanya satu kemaluan yang masih berdiri yaitu Andre, akhirnya aku harus mengalahkan gengsiku yang dari tadi mencegahku.
Kuhampiri Andre yang sedang menyocok Linda, dari belakang kupeluk dia hingga badan telanjangku menempel di punggungnya, keringat kami menyatu, aku elus dadanya yang bidang berbulu. Sesaat dia menghentikan gerakannya tapi kemudian dilanjutkan kembali dgn lebih keras.

Merasa belum mendapat respon darinya, aku bergeser ke depan, kujilati puting dadanya sambil mengelus kantung bolanya, Andre masih tetap tak mau menyentuhku malah makin cepat mengocok Linda, maka kupegang tangannya dan kuletakkan di buah dadaku, kugosok gosokkan, barulah dia mulai merespon dgn remasan halus tanpa berhenti mengocok Linda, lalu kucium bibirnya, tanpa kuduga dia langsung memegang kepalaku dan diciumnya bibirku dgn penuh gairah, full of passion, seperti orang melepas rindu berat, mungkin dari tadi Andre memang menginginkanku tapi tak berani.

Ciuman pada bibirku yang penuh nafsu tak menghentikan kocokan pada Linda, lalu turun ke leherku sebagai sasaran selanjutnya dan berhenti di kedua putingku.
Dgn penuh nafsu dan dgn liarnya dia mengulum, menjilat, menyedot dan meremas remas puting dan buah dadaku. Ouuhh aku menggeliat dalam kenikmatan yang indah.

Konsentrasiku terganggu ketika kudengar teriakan dari Linda yang sedang mencapai kenikmatatan tertinggi, dia mengalami orgasme dgn hebatnya, terlihat badannya bergetar hebat dan kepalanya digoyang goyangkan seperti orang yang kesetanan, beberapa detik kemudian badannya melemas di atas kursi dgn napas terputus putus. Bersamaan dgn ditariknya kemaluan dari kemaluan Linda, dia mendorong badanku ke bawah lalu disodorkannya kemaluan besar itu ke wajahku, agak ragu sejenak tapi kemudian tanpa membuang waktu lebih lama kukulum juga kemaluan anak buah kepercayaanku itu, seperti dugaanku ternyata aku tak mampu mengulum kemaluan itu semuanya, lalu kukocok pelan, aroma dari kemaluan Linda tercium olehku tapi tak kupedulikan, Andre memegang kepalaku dan mengocokkan kemaluannya di mulutku dgn liar, hampir aku tak bisa bernafas.

Linda sudah duduk di antara Pak Marlon dan Pak Roni, kemudian Andre memintaku duduk di kursi, dipegangnya kedua kakiku dan dipentangkannya, kuraih kemaluan besar yang dari tadi kuimpikan, kusapukan di bibir kemaluanku dan kuarahkan masuk, ternyata Andre tak mau terlalu lama bermain main di luar, dgn keras di sodoknya kemaluan besar itu masuk ke kemaluanku.

“OOUUGGHHh” teriakku spontan lalu kututupi mulutku dgn tangan sambil melotot ke arahnya.
Kemaluanku terasa penuh hingga aku tak berani menggerakkan badanku, tapi Andre seperti tak peduli, langsung mengocokku dgn cepat dan keras, kurasakan kemaluannya menggesek seluruh dinding dan mengisi semua rongga di kemaluanku, begitu nikmat hingga seakan aku melayang layang dalam kenikmatan birahi yang tinggi. Kakiku kujepitkan di pinggangnya, kedua tangannya meremas dgn keras kedua buah dadaku dan memilin ringan putingku sambil mencium bibirku dgn ganasnya.

Begitu liar dan ganas dia mencumbuku seakan menumpahkan segala dendam yang lama tesimpan, kocokannya yang keras seakan mengaduk aduk kemaluanku. Kulawan gerakannya dgn menggerakkan pinggulku secara acak, dan aku mendapatkan kenikmatan yang bertambah.

Entah sudah berapa lama kami bercinta di kursi hingga dia memintaku untuk rebah di karpet lantai ruangan, lalu segera dia menyebadaniku, badan atletisnya menindih badanku sambil pantatnya turun naik mengocok kemaluanku, ciumannya sudah menjelajah ke seluruh wajah dan leherku tanpa sedikitpun bagian yang terlewatkan.

aku mengagumi kekuatan fisik Andre yang begitu kuat, dinginnya AC tak mampu mencegah peluh kami sudah bertetesan di seluruh badan. Kuraih kenikmatan demi kenikmatan dari setiap gerakan Andre di atas badanku.
Selanjutnya kami bergulingan, kini Andre telentang dan aku duduk di atasnya, secepatnya kugoyangkan pantatku mengocok kemaluan Andre, goyanganku kubuat tak aturan dan banyak variasi hingga dia menggigit bibirnya, dipandanginya wajahku, lalu dia kembali meremas buah dadaku dgn kerasnya, tanpa kusadari ternyata Pak Roni sudah berdiri di sampingku dan menyodorkan kemaluannya ke mulutku, kugapai dan langsung kukulum dgn gairahnya sambil tetap menggoyang pantatku. Pak Roni ternyata tak mau diam saja, dia ikut mengocokkan kemaluannya di mulutku sambil memegangi kepalaku. Tak mau kalah Andre kemudian ikutan menggoyangkan pinggulnya hingga kami seolah berpacu meraih kenikmatan birahi.

Andre lalu duduk hingga badanku berhadapan dalam pangkuannya, kujepitkan kakiku di pinggangnya sambil tetap menggoyangkan pantat tanpa melepas kocokan mulutku pada kemaluan Pak Roni, Andre menjilati seluruh leher dan dadaku, disedotnya putingku dgn keras, kurasakan gigitan gigitan kecil di sekitar buah dada dan putingku tapi tak kuperhatikan.

Akhirnya kurasakan badan Andre menegang dan sedetik kemudian kurasakan kepala kemaluannya membesar memenuhi rongga dalam kemaluanku lalu menyemprotkan spermanya, sementara gigitan dan sedotan di dadaku terasa semakin kuat, denyutannya membuat aku terbang melayang tinggi hingga ke puncak kenikmatan, maka akupun orgasme saat kemaluan Andre sedang berdenyut dgn hebatnya di kemaluanku, kami sama sama menggapai orgasme dalam waktu yang relatif bersamaan, badanku sudah mulai melemas tapi kemaluan Pak Roni masih di tanganku, maka kukeluarkan kemampuanku untuk segera mengakhiri kemauan Pak Roni sambil masih tetap duduk di atas Andre, tangan Andre masih meremas dgn lembut kedua buah dadaku, tapi konsentrasiku hanya tertuju ke Pak Roni, tak lama kemudian berdenyutlah kemaluan Pak Roni di mulutku, tak kurasakan cairan sperma keluar dari kemaluan itu, hanya denyutan denyutan ringan hingga melemas dgn sendirinya.

aku terkulai lemas di atas badan Andre, anak buahku itu, dan dia membalas dgn ciuman dan elusan di punggung telanjangku, beberapa saat kemudia aku tersadar dan berdiri menjauhinya, duduk kembali di kursi.
Linda memberikan teh hangat, kami semua masih telanjang, masih kurasakan seakan kemaluan Andre masih mengganjal kemaluanku.

Baru aku sadari ternyata ada empat titik memerah bekas gigitan Andre pada dada dan sekitar buah dadaku, kulirik Andre tapi dia tak memperhatikan.
Jarum jam menunjukkan pukul 13:30, ketika kami menandatangani kontrak itu dalam keadaan telanjang, sambl memangkuku Pak Roni menandatangani lembaran itu dan di atas pangkuan Pak Roni pula aku menandatanganinya. Sementara Pak Marlon sebagai saksi, ikut menandatangani kontrak itu sambil memangku Linda yang masih telanjang.

“Alangkah asiknya kalau kita bisa makan siang bersama sambil telanjang” usul Pak Marlon
aku hanya tersenyum menanggapi usulan nakal Pak Marlon, kukenakan kembali pakaianku meski tanpa celana dalam karena diminta Pak Marlon yang masih bujangan itu.
Tak lama kemudian kami semua sudah berpakaian lengkap, kubereskan dokumen yang berserakan di lantai maupun meja dan kuberikan semuanya ke Andre.
Dan selesailah official meeting hari ini.

Sebenarnya aku tak mau mencampur adukkan antara bisnis dan kesenangan seperti ini, baru pertama kali terjadi. Awal bisnis yang di awali seperti ini terus terang membuat aku takut, tapi apa bedanya dgn para bisnisman lainnya yang memberikan wanita cantik untuk dapat mendapatkan proyek, toh proyek itu jalan juga.

Setelah makan siang, aku dan Andre mengantar mereka hingga ke lobby dan disanalah kami berpisah, aku dan Andre naik ke atas, tak ada pembicaraan sepanjang jalan ke kamar meskipun di lift Cuma kami berdua, suasana menjadi kaku, hal seperti inilah yang tak aku inginkan.
“Andre apapun yang telah terjadi adalah tak pernah terjadi, tolong camkan itu demi kebaikan kita semua” kataku pada Andre sambil mengecup bibirnya, sebelum dia masuk kamarnya.

Dan kami kembali ke Jakarta sebagai mana tak terjadi sesuatu kecuali kenangan indah.

aku tak pernah bisa memenuhi kata kataku sendiri seperti yang aku pesan di atas, karena bercinta dgn Andre terlalu nikmat untuk di tinggalkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar